Mahar Pernikahan: Contoh, Syarat dan Fungsinya

December 13, 2021 3 min read

Apa itu Mahar Pernikahan?

Mahar pernikahan atau biasa disebut maskawin merupakan barang yang biasa orang gunakan untuk memikat hati calon pasangan. Mahar menjadi bagian penting dalam pernikahan, karena bukti keseriusan pria kepada mempelai perempuan. Dalam Islam, mahar hukumnya wajib, bias berupa alat salat, perhiasan, ataupun uang tunai sekalipun.

Mahar Pernikahan

Syarat Membuat Mahar Pernikahan

Mahar yang diberikan kepada calon istri wajib penuhi syarat- syarat sebagai berikut :

1. Harta yang dijadikan mahar harus yang bermanfaat, atau yang bisa diambil manfaat. Maka tidak memakai mahar khomer misalnya, atau memakai mahar babi, darah dll. Mahar harus sesuai dengan pandangan dalam Syariat Islam.

2. Berupa harta yang berharga (mempunyai nilai harga). Tidak sah sesuatu yang sedikit dan tidak ada harganya. Misalnya sebutir beras. Sedang nilai banyaknya mahar itu tidak dibatasi berapapun banyaknya.

3. Mahar tidak boleh diambil dari sesuatu yang dighosob (mengambil hak milk orang lain secara paksa).

4. Mahar pernikahan tidak boleh dari sesuatu yang belum diketahui (dalam hal ini para ulama berpendapat). Tidak sah mahar dengan barang yang tidak jelas keadaannya, ataupun tidak disebutkan jenisnya.

Mahar Pernikahan

5 Contoh Mahar Pernikahan yang Berkesan

1. Mahar Dirham Perak

Dirham adalah mata uang yang terbuat dari perak (2,975 gram) dan telah digunakan di Arab sebagai alat tukar sejak awal-awal masa Islam. Menggunakan dirham sebagai mahar telah dicontohkan oleh Rasulullah ketika menikahi istri-istrinya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan Abu Salamah bin Abdirrahman bertanya kepada Aisyah RA tentang jumlah maharnya, maka beliau, Aisyah RA, menjawab jumlahnya 500 dirham.

2. Mahar Dinar Emas

Emas digunakan di jazirah Arab sejak awal masa Islam adalah dinar. Dinar adalah mata uang yang terbuat dari emas (4,2 gram). Penggunaan emas sebagai mahar bersamaan dengan dirham adalah hal yang lumrah dilakukan masyarakat. Masyarakat arab kala itu menggunakan dinar emas maupun dirham sebagai salah satu mahar pernikahan dengan konversi nilai 1 dinar setara 10 dirham, dengan patokan 1 dinar seharga seekor kambing.

3. Mahar Alquran

Mahar tidak selalu dikaitkan dengan benda berharga. Mahar juga dapat berupa jasa seperti jasa pengajaran terhadap Alquran. Hal ini dibolehkan dalil dari hadis Rasulullah yang diriwayatkan dari Imam Bukhari. Dikisahkan ada seorang lelaki yang datang meminta kepada Rasulullah untuk dinikahkan dengan seorang wanita, tetapi si lelaki tidak punya harta benda apa pun, yang ia miliki hanya hafalan Alquran. Dengan mahar Alquran, bisa membuat istri lebih rajin ibadah.

4. Mahar Uang Tunai

Mahar uang tunai juga merupakan hal yang lumrah untuk di pakai sebagai lamaran pernikahan. Meskipun tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat, tetapi hal ini juga tidak dilarang. Sah-sah saja selama dalam kesanggupan mempelai pria dan keridhaan mempelai wanita. Dalam hukum Islam, mahar sendiri mutlak menjadi hak seorang istri untuk mendapatkan haknya, maka dari itu uang tunai sangat lazim dijadikan sebagai mahar.

5. Mahar Seperangkat Alat Salat

Mahar dengan bentuk separangkat alat salat juga sudah menjadi hal yang umum dilakukan oleh masyarakat Muslim di Indonesia. Hal ini dibolehkan oleh syariat Islam, karena tidak menetapkan bentuk dan jumlah dari mahar tersebut. Penggunaan alat salat sebagai mahar diyakini sebagai simbol bagus, bahwa pernikahan telah disempurnakan bersama ibadah-ibadah lainnya dan harus terus dijaga sepanjang usia pernikahan tersebut.

*Baca Juga: Cara Menggelar Acara Resepsi Pernikahan yang Benar

Fungsi Mahar Pernikahan yang Sesungguhnya

  • Sebagai bentuk penghormatan, penghargaan, dan perlindungan terhadap wanita.

Dalam Islam, mahar merupakan hak penuh yang dimiliki oleh mempelai wanita yang tidak dapat diambil oleh keluarganya. Hal ini berbeda dengan masa jahiliyah di mana pemberian mahar ibarat transaksi jual beli yang memposisikan wanita atau istri layaknya 'barang' yang 'dibeli' dari keluarganya.

  • Sebagai pembeda antara pernikahan dengan mukhadanah.

Dulu mempelai laki-laki dari bangsa Jahiliah memberikan sejumlah hartanya kepada wali perempuan, sedangkan calon pengantin perempuan sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Maka dari itu, mahar dalam Islam diubah dan diberikan sepenuhnya kepada calon pengantin wanita. Mukhadanah sendiri adalah perkawinan yang tak ubahnya dengan poliandri. Poliandri yaitu seorang perempuan memiliki banyak suami.

  • Simbol tanggung jawab laki-laki kepada wanita yang dinikahi.

Mahar merupakan simbol tanggung jawab dari pihak laki-laki untuk menjamin kesamaan hak dan kesejahteraan keluarga setelah pernikahan terwujud bersama wanita yang ia nikahi.

  • Sebagai bentuk keseriusan laki-laki kepada perempuan

Pemberian mahar oleh seorang laki-laki kepada wanita, merupakan bentuk keseriusan dan cinta kasih mempelai laki-laki terhadap mempelai wanita yang akan dinikahinya. Karena itu, pemberian mahar ini harus dilakukan dengan hati yang ikhlas, tulus, dan diniatkan untuk memuliakan wanita yang akan dinikahinya.

  • Sebagai simbol persetujuan dan kerelaan.

Mahar yang diberikan kepada wanita yang akan dinikahi merupakan simbol persetujuan dan kerelaan antara kedua belah pihak untuk hidup bersama sebagai pasangan suami istri dalam ikatan pernikahan.

  • Simbol tanggung jawab wanita terhadap mahar yang diberikan.

Mahar adalah hak penuh yang dimiliki oleh mempelai wanita yang tidak dapat diambil oleh keluarganya. Karena itu, tidak ada seorang pun dari pihak mempelai wanita yang berhak menghalangi mempelai wanita untuk mendapatkan mahar. Dalam Islam, wanita memiliki hak penuh atas mahar yang diberikan. Tidak seorangpun anggota keluarga pihak wanita yang boleh mengambil mahar tersebut kecuali atas persetujuan dan kerelaannya.

*Baca Juga: Contoh Souvenir Pernikahan yang Bagus dan Berkesan


Leave a comment